Aliran-Aliran Dalam Teori Penduduk

December 08, 2018

Pada tahun 1650 jumlah penduduk negara-negara Eropa, Amerika Utara, Amerika Tengah dan Amerika Selatan berjumlah 113 juta (113.000.000) jiwa, pada tahun 1750 menjadi 152,4 juta (152.400.000) jiwa, dan kemudian pada tahun 1850 menjadi 325 juta (325.000.000) jiwa. Jadi dalam dua abad jumlahnya menjadi 3 kali lipat, sedangkan untuk benua Asia-Afrika dalam jangka waktu yang sama jumlah penduduknya hanya berubah dua kali banyaknya.

Tingginya laju pertumbuhan penduduk di beberapa bagian dunia ini menyebabkan jumlah pendudk meningkat dengan cepat. Di beberapa bagian di dunia ini telah terjadi kemiskina dan kekurangan pangan. Fenomena ini menggelisahkan beberapa ahli, dan masing-masing dari mereka berusaha mencari faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan tersebut. Jikalau faktor-faktor penyebab tersebut telah ditemukan maka masalah kemiskinan akan dapat diatasi.

1. Aliran Malthusian
Aliran ini dipelopori oleh Thomas Robert Malthus, seorang pendeta Inggris, hidup pada tahun 1766 hingga tahun 1834. Pada permulaan tahun 1798 lewat karangan yang berjudul: "Essai on Principle of Populations as it Affect the Future Improvement of Society, with Remarks on Specculations of Mr. Godwin, M. Concordet, and Other Writers" , menyatakan bahwa penduduk (seperti juga tumbuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi ini (weeks, 1992). Tingginya pertumbuhan penduduk ini disebabkan karena hubungan kelamin anatara laki-laki dan perempuan tidak bisa dihentikan. Disamping itu Malthus berpendapat bahwa manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan bahan makanan jauh lebih lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk, Apabila tidak diadakan pembatasan terhadap pasangan-pasangan yang sudah menikah. usaha pembatasan kelahiran ini telah dianjurkan oleh Francis Place pada tahun 1822 (Flew, 1976). 

2. Aliran Neo-Malthusian
Pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, teori Malthus mulai diperdebatkan lagi. Kelompok yang menyokong aliran Malthus tetapi lebih radikal disebut dengan kelompok Neo-Malthusianism.

kelompok ini tidak sependapat dengan Malthus bahwa mengurangi jumlah penduduk cukup dengan moral restain saja. Untuk keluar dari perangkap Malthus, mereka menganjurkan menggunakan semua cara-cara " preventive checks" misalnya dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti kondom untuk mengurangi jumlah kelahiran, pengguguran kandungan (abortion).

3. Aliran Marxist
Aliran ini dipelopori oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Ketika Thomas Robert Malthus meningal di Inggris pada tahun 1834, mereka berusia belasan tahun. Kedua-duanya lahir di Jerman kemudian secara sendiri-sendiri hijrah ke Inggris. Pada waktu itu teori Malthus sangat berpengaruh di Inggris maupun di Jerman. Marx dan Engels tidak sependapat dengan Malthus yang menyatakan bahwa apabila tidak diadakan pembatasan terhadap pertumbuhan penduduk, maka manusia akan kekurangan bahan pangan. Menurut Marx tekanan penduduk yang terdapat di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan penduduk terhadap kesempatan kerja. Kemelaratan terjadi bukan disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat, tetapi karena kesalahan masyarakat itu sendiri seperti yang terdapat pada negara-negara kapitalis. Kaum kapitalis akan mengambil sebagian pendapatan dari buruh sehingga menyebabkan kemelaratan buruh tersebut. Sebagai contoh, seorang buruh yang bekerja di bengkel kendaraan bermotor selama 8 jam, tetapiia hannya dibayar untuk kerja selama 6 jam karena upah selama 2 jam digunakan untuk membayar sewa alat-alat bengkel yang dipunyai bengkel itu sendiri. Semakin banyak kaum kapitalis memotong gaji buruh tersebut semakin rendah pendapatan yang diterima oleh buruh yang menyebabkan mereka semakin melarat

Selanjutnya Marx berkata, kaum kapitalis membeli mesin – mesin untuk menggantikan pekerjaan – pekerjaan yang dilakukan oleh buruh. Jadi penduduk yang melarat bukan disebabkan oleh kekurangan bahan pangan, tetapi karena kaum kapitalis mengambil sebagian dari pendapatan mereka. Jadi menurut Marx dan Engels sistem kapitalisasi yang menyebabkan kemelaratan tersebut. Untuk mengatasi hal – hal tersebut maka struktur masyarakat harus diubah dari sistem kapitalis ke sistem sosialis.

Menurut Marx dalam sistem sosialis alat-alat produksi di kuasai oleh buruh, sehingga gaji buruh tidak akan terpotong. Buruh akan menikmati seluruh hasil kerja mereka dan oleh karena itu masalah kemelaratan akan dapat dihapuskan. Marx juga mengatakan bahwa semakin banyak jumlah manusia, semakin tinggi hasil produktivitasnya, jadi tidak perlu diadakan pembatasan pertumbuhan penduduk. Marx dan Engel menentang usaha-usaha moral restraint  yang dicetuskan oleh Malthus.

Sumber : Buku Demografi Umum yang ditulis oleh Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D

Editor : Muhammad Afif Ammar

Artikel Terkait

Previous
Next Post »